Si Tangguh Gajah

Aku adalah Gajah si tubuh besar dan pemakan tumbuhan, rasa laparku yang begitu besar setiap saat jadi bisa memakan buah-buahan, sayuran dan kacang-kacangan.  Orang - orang ketika melihatku kebanyakan memanggilku si Gajah Tangguh karena badanku yang besar dan aku selalu terlihat sendiri. Aku tak mengingat bahwa aku ini peranakan dari gajah sumatera? atau gajah afrika? atau gajah borneo? atau peranakan silang dari mereka itu ya? sepertinya aku peranakan silang dari gajah afrika dan gajah sumatera melihat dari corak kulitku dan tingkah lakuku, tapi entah lah. Usiaku saat ini memasuki 6 tahun yang mana dari kecil aku sudah dibesarkan dan hidup di kebun binatang ini. Tak pernah aku mengenali siapa yang melahirkanku dan indukanku seperti apa, aku pun tak pernah melihat mereka. Aku tinggal disini bersama pawangku yang tiap hari membersihkan kandangku dan memberiku makan dan minum, sebut saja si Kang Mus.

Kang Mus si Pawang Tangguh yang kesehariannya sebagai keeper di kebun binatang yang sudah mengabdi sekitar 15 tahun lalu. Dia bekerja di kebun binatang ini dari usia 21 tahun dengan pekerjaan awalnya sebagai tukang kebun. Karena dia termasuk orang yang ulet dan mudah bergaul bersama siapa saja maka datanglah kesempatan untuk menjadi pawang kandang dari Si Tangguh. Hubungan kedua mahluk berbeda bentuk, rupa dan kenyataan ini berjalan sangat romantis dan koperatif. Si Tangguh tidak pernah menampakkan kemarahannya kepada Kang Mus karena kebiasan Si Tangguh sudah dipahami oleh Kang Mus dari makanan kesukaan, meletakkan makannya, jam makannya, kondisi kandang dan jam mainnya. Bahwa hubungan ini mungkin sudah terjalin sekitar 5,5 tahun.

Setiap pagi hari Si Tangguh Gajah ini aktivitasnya dimulai dengan mandi kolam yang berada di pinggiran kandang. Di kandang ini dia sendirian menikmati hari-harinya bersama Kang Mus dan melihat lalu lalang pengunjung kebun binatang. Kegiatan mandi cukup lama karena Si Tangguh senang bermain main air, berendam dan menyemprotkan air ke Kang Mus. Kemampuan belalai Si Tangguh dapat menyemprot air sampai kejauahan kurang lebih 2,5 meter, itu yang kadang membuat Kang Mus kaget dan menahan rasa sakitnya ketika harus mengajak Si Tangguh untuk keluar dari kolam air tersebut. Setiap pukul 07.30 hingga 08.30 itu waktu yang ideal untuk Si Tangguh mandi dan berendam sebelum pukul 09.00 waktunya makan. Adegan mandi dan berendam dilakukan pada hari Senin-Rabu-Jumat karena biasanya hari itu hari yang panas dan membutuhkan banyak siraman air ke tubuh Si Tangguh.

Jam makan terbaik di pagi hari ialah jam 09.00 karena cuaca yang lebih hanyat, badan lebih siap menerima makan dan sudah bugar karena terkena sinar matahari dan guyuran air kolam. Biasanya Mang Kus sudah menyiapkan makanan berupa semangka 2 buah, pisang 1 ikat, rumput/jerami dan wortel itu untuk menu paginya. Bila di sore hari diberi garam, sayuran, kacang-kacangan dan rerumputan.

Kehidupan Si Tangguh ini terus berulang setiap harinya dan bersama Kang Mus. Sesekali, diajak Kang Mus untuk keliling kebun binatang agar otot  Si Tangguh ini tidak kaku. Di akhir pekan, Si Tangguh sering melihat pengunjung sedang melihatnya mandi atau makan tetapi dia tetap tak terganggung karena di Kandangnya ada pembatas semacam kolam yang memberikan jarak sehingga pengunjung dan Si Tangguh tidak dapat berinteraksi langsung. Sering terpikirkan oleh Si Tangguh "Kapan ya aku hidup bebas?" "Enak ya hidup dengan bebas" "Di luar sana bagaimana sih kehidupannya?". Pemikiran itu sering muncul dan berputar-putar di kepala Si Tangguh, dia juga tak mampu menjawabnya apalagi untuk menanyakan ke Kang Mus itu juga tidak mungkin. Sekarang, Si Tangguh hanya menerima dan menikmati hidupnya.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mencoba Financial Freedom??? Hmm...

Peranan Pemuda Dalam Penataan Ruang

Sepak Bola Bukan Hanya Sekadar Olahraga Tetapi Industri Persepakbolaan!